Senin, 05 Oktober 2009

Guruku

Sampai detik aku menulis ini, aku benar-benar merasa beruntung karena diberi telinga yang bisa mendengar saat pintu diketuk Imam Besar Agung. Membukakan pintu hatiku seluas-luasnya untuk Imam Besar Agung membuatNya menjadi Guru dalam kehidupanku. Guru mengajarku, Guru menunjukkan jalan yang harus aku tempuh, Guru hendak menasehatiku dan Mata Guru tertuju kepadaku. Guru juga menghajarku supaya aku mengerti. Guru, sejujurnya aku sering menangis lho....tapi aku mengerti itu semua untuk kebaikannku sendiri.

Guru punya jutaan murid dibumi ini . Tahukah kamu, Guru setiap saat mengetuk pintu calon murid-muridnya tanpa pilih kasih !

Guru pernah mengajarkan suatu perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh !. Yaiksss..... kontradiktif sekaleee, karena biasanya orang yang kaya tentunya pintar menghasilkan uang. Tuh lihat Bill Gates, Robert Tiyosaki, George Soros....tajir abis bukan. Mereka itu termasuk golongan yang waktu tidurpun saldo rekeningya bertambah terus.

Tapi Guru berkata ada orang kaya yang bodoh, yang memuaskan jiwanya dengan kekayaannya.

Come on Guru, it's ok lah memuaskan jiwa dengan harta. Udah cape-cape kerja mboooo, mosok sih nga bisa menikmatinya ?.

Trus apa donk maksudnya Guru ?

Guru memberi pengertian begini, sekalipun punya harta yang tidak habis dipakai tujuh turunan, belum tentu di mata Imam Besar Agung kita kaya. Bahkan bisa jadi kita adalah orang termiskin yang telanjang.

Opssss, kok ????? aku makin bingung yah ?

Inilah Guruku. Sekalipun aku lambat mengerti, Guru tetap sabar menunggu sampai aku benar-benar mengerti.

Ini lho maksud Guru. Kaya di hadapan Imam Besar Agung adalah kaya didalam rahmat, kaya didalam pekerjaan-suka memberi dan kaya di dalam iman. Jika bertekun maka Bapa akan mencukupi semua kebutuhan. Kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri untuk memperoleh kekayaan tapi Bapa disurga yang akan mencurahkannya.

Beda sekali pengertiaan kaya secara dunia dan kaya di mata Imam Besar Agung. Cara mudah untuk memeriksa apakah kita ini kaya secara dunia atau kaya menurut Imam Besar Agung yaitu apakah sudah ada damai dihati ?

Damai seperti apa Guru ?

Nanti kita lanjutkan lagi..

Guru, makasih buat pelajaran ini. Aku mau belajar lebiiiiiiiiiiiih lagi.

Rabu, 12 Agustus 2009

Hatiku menangis.....

Minggu, 09 Agustus 2009

Tuhan tidak pernah intervensi

Sejak Tuhan Allah berfirman kepada Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, tidak sedikitpun mereka berfikir untuk menyentuhnya apalagi memakannya, padahal mereka sering melintasi pohon tersebut karena letaknya ada ditengah-tengah taman Eden. Mereka tidak tertarik sama semasekali !.

Sampai suatu saat Hawa membuka hatinya untuk berbicara kepada ular. Dan mendadak pohon tersebut mempunyai daya tarik. Sangat menarik dan menggiurkan sampai Hawa tidak tahan lagi untuk tidak mendekat. Dia mengikuti saran ular, dia memakannya karena Hawa merasa dia layak membuat keputusan yang menurutnya baik bagi hidupnya, yaitu dengan memakan buahnya dia akan menjadi serupa dengan Allah !.

Kalau dipikir-pikir, kurang apalagi Tuhan itu , Dia menfasilitasi Adam dan Hawa sedemikian rupa. Mereka berdua hanya mengusahakan dan memelihara taman Eden. Tuhan hanya punya satu permintaan untuk mereka yaitu taat ! untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat . Lihatlah apa yang terjadi, waktu Hawa membuka hatinya untuk mulai bercakap-cakap dengan ular, dia lupa dengan apa yang telah Tuhan sediakan.

Well, dalam kehidupan, seringkali kita seperti itu. Kita memberi kesempatan diri kita berbicara dengan ular. Ular mewakili karakter si jahat. Ular bilang, " kalau kamu tidak tercipta sebagai lesbian, kenapa pula kamu hanya memiliki hasrat terhadap perempuan, kenapa pula kamu hanya bisa mengasihi perempuan ?, bukankah segala sesuatu datang dari pada Tuhan ?". Semakin sering berbicara dengan ular, perasaan itu semakin besar, sampai akhirnya kita memutuskan untuk mengikuti saran si ular, mencap diri sendiri lesbian!.

Di dalam hidup kita membuat pilihan, apakah kita memilih membuka jalur komunikasi dengan si ular ? atau mendengarkan kedua-duanya ? atau kita memilih untuk membuka jalur komunikasi hanya dengan Tuhan saja !. Dalam hal memilih, Tuhan tidak pernah intervensi !

Saat memilih membuka jalur komunikasi dengan si ular, orang itu menjadi keras hati. Tidak ada Tuhan dalam kamusnya. Kemudian mulai memutuskan untuk menjalani hidup menurut apa yang kita pandang baik termasuk memutuskan menjadi lesbian.

Saat kita berada dalam kondisi berkomunikasi dengan ular dan Tuhan, kita menjadi orang yang munafik, bebal. Mengambil yang enak menurut hati sendiri. Yang enak dari ular diambil, begitupun dari Tuhan. Menutup mata saat dihadapkan kepada konsekuensi yang Tuhan berikan dan membuat pengertian-pengertian yang menyenangkan hati sendiri.

Dengan memutuskan hanya berkomunikasi dan taat kepada Tuhan, perasaan menyukai sesama jenis akan hilang, tidak akan muncul keinginan. Ada damai. Ada sukacita.

Putuskanlah untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan sampai tiba masanya kita berpulang ke Rumah Bapa. Amin.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Catatan Mimpi

26 July Minggu Pagi 5:00-6:00

Ada kamu, kenalan baruku berdiri disamping kenalan lamaku yang lesbian.

Ada panggung, ada ramai orang, ada yang ditumpang tangan, ada bapak rohaniku disana, ada seorang kenalanku yang lain, ada papaku juga.

Ada yang memberikan aku tiket untuk belajar.

Ada suara yang mengatakan aku dipanggil. Aku menjadi hambaNya.



Aku terbangun jam 6 tepat dan berkemas untuk mengikuti ibadah jam 7. Di sepanjang perjalanan aku memikirkan mimpi tadi. Semuanya begitu jelas. Aku jadi bertanya-tanya, lesbiankah kamu kenalan baruku ? Kenapa kamu berdiri di samping kenalan lamaku yang lesbian itu ? Apakah kalian kenal satu sama lain ?



Tiba-tiba aku mendengar suara yang berkata " hari ini yang kothbah bapak x ". Aku membantah suara itu dan berkata, " mana mungkin, aku tahu persis beliau sudah kothbah 2 minggu yang lalu ".



Aku sampai di gereja pukul 7:10 menit. Terlambat. Setengah berlari aku menaiki tangga. Aku berpapasan dengan sahabatku di tangga dan hanya menegur seadanya dan terus berlari menuju ruang ibadah. Aku mengambil posisi di baris ke tiga dari depan dan terkejut sekali karena yang kothbah adalah bapak x.

Aku mengerti bahwa Cahaya selalu memberi tanda sebelum fajar tiba.



Kamis, 02 Juli 2009

Antara Citra dan Integritas

Aku tidak ambil perduli pendapat orang lain yang mengetahui aku memutuskan keluar dari hubungan sesama jenis. Citra itu nga penting banget buatku. Perubahan yang aku alami bukan sesuatu yang bisa di lihat secara fisik atau di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya Tuhan dan aku sendiri yang tahu ada perubahan di dalam diriku.

Kenapa aku bisa berubah ? Sekali lagi ini karena kasih karunia Tuhan, hatiku yang keras menjadi lembut. Hanya Tuhan yang bisa melembutkan hati yang keras.

Sesederhana itu ? Ya.

Sulit ? Ya, jika tanpa Tuhan.

Mungkin ? Ya. tapi tidak menurut pikiran manusia.

Lesbian berubah ? Ya. Sungguh ajaib untuk di mengerti.

Setelah perubahan yang terjadi, bukan lantas aku menjadi sosok yang sempurna dan hidupnya jadi mulus. Sama sekali tidak . Sebaliknya aku jadi tahu kalau diri aku bobrok banget dan banyak hal yang harus diperbaiki. Hidup aku juga tidak mulus, goncangan usaha, dimusuhin, difitnah.

Karena kasih karunia Tuhan, aku mendapat kesempatan untuk membuka lembaran hidup baru. Sungguh-sungguh baru. Dan kali ini aku menjalani hidup bersama denganNya. Semua hal yang buruk di dalam diriku satu persatu dibuang. Aku terbuka dengan Tuhan, mengakui dari mulutku sendiri apa yang menjadi kelemahanku walaupun aku tahu Tuhan pasti mengetahui seluruh isi hatiku. Mengakui kelemahan berarti memohon Tuhan menjaga supaya tidak terjatuh karena kelemahan itu. Hatiku terbuka dihadapanNya.

Tidak hanya aku dibersihkanNya, Dia juga menaruh hati yang fokus kepadaNya. Aku mencariNya. Ada kerinduan untuk mencariNya. Aku haus air kehidupanNya. Integritasku terbentuk dengan sendirinya.

Antara citra dan integritas. Antara aku dan Tuhan. Perubahan yang terjadi adalah tentang aku dan Tuhan. Tentang hubunganku dan Tuhan yang dipulihkan. Aku buang citra jauh-jauh dari dalam hidupku. Hanya ada integritas.