Jumat, 17 September 2010

OPERA MINI 2

Sebut saja namanya En.

Dimulai dengan menceritakan aktifitas apa saja yang kujalani baik itu dunia sekuler maupun pelayanan di gereja. Akhirnya kami bertukar alamat jejaring sosial. Demi membangun komunikasi, aku mulai sering meng-update status, add friend dan rajin membalas comment.

Suatu saat En bilang mau menyumbangkan beberapa barang pribadinya , aku mengusulkan nama sebuah panti asuhan kepadanya dan En setuju.

Hari – H, aku menuju ke tempat tinggal En. Kurang dari 20 menit sudah tiba. Pesan singkat “aku sudah tiba” ku kirim ke handphonenya. Tidak berapa lama En keluar dari kamar dengan membawa kardus kecil berisi pakaian bekas.

Dengan cepat mobil ku pacu ke panti asuhan.

Tiba di sana, halaman panti asuhan gelap, cahaya hanya datang dari dalam bangunan. Aku melirik jam, baru pukul 7:30. Agak khawatir, jangan-jangan sudah tidak bisa terima tamu. Gembok gerbang kuketok pelan. Syukurlah tidak berapa lama seorang ibu keluar. Aku jelaskan maksud kedatangan kami, kemudian En menyerahkan sumbangan tersebut dan kami segera beranjak pergi.

Tujuan berikutnya adalah mengunjungi rumah Wil. Sahabat sekaligus konselorku. Dia murni hetero. Hikmat dari Tuhan membuat Wil mampu menjadi seorang konselor bagiku yang punya latar belakang lesbian. Perihal En juga kukonsultasikan dengannya. Semangatku begitu menggebu-gebu untuk bersaksi tapi Wil dengan mimik khawatir bolak-balik berpesan agar tidak lupa berdoa terus dan menekankan kepadaku adalah lebih baik melangkah mundur jika aku tidak bisa menjaga hatiku dari pada terjatuh lagi di masalah yang sama.

Rencananya En mau menyumbangkan buku-bukunya kepada yang membutuhkan. Setahuku Wil punya jaringan yang luas untuk itu makanya mereka kuperkenalkan. Wil baru pulang waktu kami tiba. Kami hanya sebentar disana karena En ntah kenapa membatalkan niatnya.

Dalam perjalanan pulang, sekilas En bercerita tentang ayahnya yang temperamen dan hal itu membuatnya dari muda punya tekad kuat untuk mandiri secara financial. Berbagai pekerjaan dilakoni dengan kerendahan hati. Hari ini En adalah seorang manager dan mapan.

Ini baru permulaan.

Sabtu, 11 September 2010

Opera Mini 1

Aku melayani setiap pelanggan yang datang memanfaatkan jasa usaha yang baru di rintis , disitulah aku berkenalan dengan perempuan itu.


Beberapa bulan kemudian, saat aktifitas kantor mulai naik, aku bergabung dalam pelayanan gereja yang tugasnya mengunjungi jemaat yang minta dikunjungi untuk di doakan. Aku pernah mengunjungi pasien AIDS, kanker hati, lever, orang yang kehilangan semangat hidup, pengusaha sukses, dll. Setiap selesai kunjungan aku mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas hidup yang diberikannya kepadaku.


Perempuan itu akhirnya menjadi pelanggan tetap dan spiritku mulai merasa ada sesuatu yang aneh didiri perempuan ini. Tidak bisa ku deskripsikan seperti apa. Hanya ku rasa dia seorang penyuka sesama jenis, tapi aku tidak mau sembarangan menghakiminya. Prinsip chek dan re-check kupegang erat-erat .


Sampai suatu saat, aku merasa ada beban berat yang menindihku, begitu berat sampai membuatku gelisah. Bayangan perempuan itu muncul berulang kali. Aku tersentak kaget. Dari situlah aku yakin bahwa perempuan itu lesbian.


Aku memutuskan untuk membangun komunikasi lebih dalam dengan tekad perempuan ini harus tahu bahwa Tuhan yang aku sembah sanggup memulihkannya.

Senin, 05 Oktober 2009

Guruku

Sampai detik aku menulis ini, aku benar-benar merasa beruntung karena diberi telinga yang bisa mendengar saat pintu diketuk Imam Besar Agung. Membukakan pintu hatiku seluas-luasnya untuk Imam Besar Agung membuatNya menjadi Guru dalam kehidupanku. Guru mengajarku, Guru menunjukkan jalan yang harus aku tempuh, Guru hendak menasehatiku dan Mata Guru tertuju kepadaku. Guru juga menghajarku supaya aku mengerti. Guru, sejujurnya aku sering menangis lho....tapi aku mengerti itu semua untuk kebaikannku sendiri.

Guru punya jutaan murid dibumi ini . Tahukah kamu, Guru setiap saat mengetuk pintu calon murid-muridnya tanpa pilih kasih !

Guru pernah mengajarkan suatu perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh !. Yaiksss..... kontradiktif sekaleee, karena biasanya orang yang kaya tentunya pintar menghasilkan uang. Tuh lihat Bill Gates, Robert Tiyosaki, George Soros....tajir abis bukan. Mereka itu termasuk golongan yang waktu tidurpun saldo rekeningya bertambah terus.

Tapi Guru berkata ada orang kaya yang bodoh, yang memuaskan jiwanya dengan kekayaannya.

Come on Guru, it's ok lah memuaskan jiwa dengan harta. Udah cape-cape kerja mboooo, mosok sih nga bisa menikmatinya ?.

Trus apa donk maksudnya Guru ?

Guru memberi pengertian begini, sekalipun punya harta yang tidak habis dipakai tujuh turunan, belum tentu di mata Imam Besar Agung kita kaya. Bahkan bisa jadi kita adalah orang termiskin yang telanjang.

Opssss, kok ????? aku makin bingung yah ?

Inilah Guruku. Sekalipun aku lambat mengerti, Guru tetap sabar menunggu sampai aku benar-benar mengerti.

Ini lho maksud Guru. Kaya di hadapan Imam Besar Agung adalah kaya didalam rahmat, kaya didalam pekerjaan-suka memberi dan kaya di dalam iman. Jika bertekun maka Bapa akan mencukupi semua kebutuhan. Kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri untuk memperoleh kekayaan tapi Bapa disurga yang akan mencurahkannya.

Beda sekali pengertiaan kaya secara dunia dan kaya di mata Imam Besar Agung. Cara mudah untuk memeriksa apakah kita ini kaya secara dunia atau kaya menurut Imam Besar Agung yaitu apakah sudah ada damai dihati ?

Damai seperti apa Guru ?

Nanti kita lanjutkan lagi..

Guru, makasih buat pelajaran ini. Aku mau belajar lebiiiiiiiiiiiih lagi.

Rabu, 12 Agustus 2009

Hatiku menangis.....

Minggu, 09 Agustus 2009

Tuhan tidak pernah intervensi

Sejak Tuhan Allah berfirman kepada Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, tidak sedikitpun mereka berfikir untuk menyentuhnya apalagi memakannya, padahal mereka sering melintasi pohon tersebut karena letaknya ada ditengah-tengah taman Eden. Mereka tidak tertarik sama semasekali !.

Sampai suatu saat Hawa membuka hatinya untuk berbicara kepada ular. Dan mendadak pohon tersebut mempunyai daya tarik. Sangat menarik dan menggiurkan sampai Hawa tidak tahan lagi untuk tidak mendekat. Dia mengikuti saran ular, dia memakannya karena Hawa merasa dia layak membuat keputusan yang menurutnya baik bagi hidupnya, yaitu dengan memakan buahnya dia akan menjadi serupa dengan Allah !.

Kalau dipikir-pikir, kurang apalagi Tuhan itu , Dia menfasilitasi Adam dan Hawa sedemikian rupa. Mereka berdua hanya mengusahakan dan memelihara taman Eden. Tuhan hanya punya satu permintaan untuk mereka yaitu taat ! untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat . Lihatlah apa yang terjadi, waktu Hawa membuka hatinya untuk mulai bercakap-cakap dengan ular, dia lupa dengan apa yang telah Tuhan sediakan.

Well, dalam kehidupan, seringkali kita seperti itu. Kita memberi kesempatan diri kita berbicara dengan ular. Ular mewakili karakter si jahat. Ular bilang, " kalau kamu tidak tercipta sebagai lesbian, kenapa pula kamu hanya memiliki hasrat terhadap perempuan, kenapa pula kamu hanya bisa mengasihi perempuan ?, bukankah segala sesuatu datang dari pada Tuhan ?". Semakin sering berbicara dengan ular, perasaan itu semakin besar, sampai akhirnya kita memutuskan untuk mengikuti saran si ular, mencap diri sendiri lesbian!.

Di dalam hidup kita membuat pilihan, apakah kita memilih membuka jalur komunikasi dengan si ular ? atau mendengarkan kedua-duanya ? atau kita memilih untuk membuka jalur komunikasi hanya dengan Tuhan saja !. Dalam hal memilih, Tuhan tidak pernah intervensi !

Saat memilih membuka jalur komunikasi dengan si ular, orang itu menjadi keras hati. Tidak ada Tuhan dalam kamusnya. Kemudian mulai memutuskan untuk menjalani hidup menurut apa yang kita pandang baik termasuk memutuskan menjadi lesbian.

Saat kita berada dalam kondisi berkomunikasi dengan ular dan Tuhan, kita menjadi orang yang munafik, bebal. Mengambil yang enak menurut hati sendiri. Yang enak dari ular diambil, begitupun dari Tuhan. Menutup mata saat dihadapkan kepada konsekuensi yang Tuhan berikan dan membuat pengertian-pengertian yang menyenangkan hati sendiri.

Dengan memutuskan hanya berkomunikasi dan taat kepada Tuhan, perasaan menyukai sesama jenis akan hilang, tidak akan muncul keinginan. Ada damai. Ada sukacita.

Putuskanlah untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan sampai tiba masanya kita berpulang ke Rumah Bapa. Amin.