Rabu, 23 Juli 2008

Tragedi Sepotong Lemper Isi Daging

Aku sedang berpantang makan daging, bukan diet atau ada sakit penyakit. Tapi ikut serta dalam Doa Puasa untuk Kebangkitan Bangsa. Berpuasa masih masuk kategori langka dalam keseharianku, jadi masih terasa sulit. Aku mulai pilih-pilih makanan trus kalau pergi ke resto bertanya dengan rinci campuran makanan yang akan ku pesan. Pokoknya niat banget deh !

Seisi rumah nga tahu aku sedang berpuasa, jadi nga ada menu khusus untuk diriku. Berhubung yang mengatur menu adalah bunda tercinta, aku mesti siap mental menghadapi hidangan di meja makan. Aku suka kasih alasan, lagi malas makan daging neh. Padahal aku tuh paling doyan. Dan alasan itu bisa diterimanya. Yang penting buat ibu, aku jangan sampai telat makan.

Beberapa hari ini aku kebagian tugas antar jemput keponakan. Antar jam 7:00 trus jemput jam 10:45. Satu-satunya tempat menunggu yang adem di sekolah itu hanya di kantin. Aroma masakan di kantin ini enak banget. Biasanya sambil nunggu, aku suka makan disitu. Berhubung puasa aku pilih menu tanpa daging tentunya.

Hari ini, aku sampai di sekolah keponakan jam 10:30. Berhubung cuaca panas sekali, aku segera ke kantin. Aku lapar sekali tapi waktunya nga memadai kalau pesan makanan berat. Aku memilih kue kecil yaitu donat dan lemper !. Trus langsung mesen teh botoh. Rasanya nikmat banget waktu aku mulai menggigit lemper sambil minum teh botol trus diakhiri dengan makan donat yang ditaburi coklat.

Laparku hilang setelah menghabiskan semuanya. Aku melirik jam, hmmmm, masih ada waktu 10 menit lagi. Aku melirik ke arah kumpulan ibu-ibu yang memenuhi kantin, ada yang melamun, ada yang lagi nawarin barang dagangan. Wah, hebat juga ibu ini, komentarku dalam hati.



Sesaat aku tersentak !,



astaga!



aku makan lemper isi daging !.



aku kan lagi puasa !.



rasanya pengen dikeluarin dari perut.



aku nepuk jidat sendiri !.



kok bisa-bisanya aku lupa !



Maaf Tuhan, kataku dalam hati. Penyesalan tinggal penyesalan, tuh lemper sudah dicerna dalam lambung duabelas jariku. Nga ada gunanya disesali.

Sepanjang perjalanan pulang, perasaanku nga enak banget. Rasanya sia-sia puasa yang udah dijalanin dua minggu. Trus aku juga jadi bingung, mau dilanjutin atau dimulai dari awal lagi !.Persis sampai dirumah ada jawaban yang muncul dalam fikiranku. Dan aku ketawa sendiri dengan apa yang muncul dalam fikiranku itu.

Gimana aku nga tertawa. Soalnya dari awal puasa, aku nga pernah menyiapkan diriku untuk berdoa pribadi demi kebangkitan bangsa kecuali doa bersama di gereja. Aku terlalu sibuk memikirkan hal pribadiku sendiri. Itu artinya aku hanya niat secara jasmani. Lha, artinya puasa yang aku jalani ini adalah puasa diet !!.

Pemahaman yang lebih dalam aku dapat saat menuliskan ini yaitu mesti fokus sama niat !. Punya banyak niat baik tapi kalau nga fokus sama aja dengan pekerjaan sia-sia dan lubang-lubang kegagalan siap menanti karena aku berjalan sendiri.


5 komentar:

Fida Abbott mengatakan...

Hello Mbak Kesembuhanku, terima kasih ya atas kesediannya. Saya menghargainya sekali. Setelah account diaktifkan maka Mbak Kesembuhanku sudah dapat memposting artikel dgn klik 'Kirim/Edit Berita' di www.kabarindonesia.com. Ditunggu sharingnya. GBU!

Ntar kalau mengirim artikel di sana, konfirm ke aku ya....

Selamat berkarya di dalam-NYA!

Fida Abbott mengatakan...

Hello Mbak Kesembuhanku,

Terima kasih ya atas kesediannya. Saya menghargainya sekali. Setelah account diaktifkan maka Mbak Kesembuhanku sudah dapat memposting artikel dgn klik 'Kirim/Edit Berita'. Ditunggu sharingnya. GBU!

Nanti kalau sudah mengirim artikel di sana, mohon saya dikonfirmasi.

Selamat Berkarya di dalam-NYA!

Judith mengatakan...

Kasian ya .. lemper kok jadi tragedi. Yang penting maknanya ya Aku ..

GBU ..

Fida Abbott mengatakan...

Hello, Rubrik apa? Belum tahu initialnya apalagi nama lengkap Mbak.

Anyway, thanks.

David mengatakan...

halo ..
gw pernah juga ngalamin seperti ini, hanya waktu itu memang puasanya ngga niat2 amat, karena disuruh pemimpin rohani .. :)

tapi sekarang lagi puasa juga, biarpun sama atas perintah dari pemimpin rohani, menjadi berbeda karena gw juga rindu juga untuk berpuasa dan berdoa

Walhasil sampai sekarang masih bisa terus berjalan.

Sebetulnya yang Tuhan lihat bukanlah usaha kitanya, tetapi motivasi dan kerinduannya. Karena kalau usahanya yang Ia lihat, berarti puasa pun bukanlah kasih karunia lagi jadinya :)

Selamat berpuasa!
Gbu