Rabu, 10 September 2008

Api Cinta

Tahun ini usiaku 34 tahun. Sepanjang tahun ini, aku menyadari bahwa aku menerima kado yang nilainya jutaan kali lebih besar dari property Donald Trump plus royalty Bill Gates plus equity Soros & Warren. Yaitu mengenal Tuhan dan hidupnya api cintaku kepadaNya.

Hari demi hari aku mulai belajar dan mengerti bahwa Tuhanku bukan Tuhan yang menakut-nakuti anakNya dengan potret neraka. Saat aku hidup sebagai lesbian, Tuhan tidak datang dan memaparkan dosa yang akan kutanggung nanti. Sebaliknya Dia datang membuka satu pintu kesempatan untuk memulai hidup baru yang damai sejahtera.

Saat aku mengakuinya dihadapanNya, " Tuhan, yah aku ini memang lesbian dan aku mau berubah", sejak itu Dia mulai memberiku lembaran hidup baru dan menuntun langkahku. Begitu banyak peristiwa yang terjadi yang tidak bisa kutelaah satu persatu. Peristiwa yang menurutku tidak mungkin tapi bisa terjadi. Aku begitu bersemangat untuk bercerita kepada siapa saja tentang Dia, termasuk menulis di blog ini.

Dan api cinta yang hidup di dalam hatiku yang membuat cintaku kepadaNya bukan cinta yang mengharapkan pamrih. Aku tidak berhitung dan bernegosiasi pahala dan dosa denganNya. Aku juga tidak mengharapkan upah karena aku sudah mencintaiNya.

Karena itu, Aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian.

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu ?.

Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya ?

Dan mengapa kamu kuatir pada pakaian ? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

namun Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok di buang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya ?

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata : Apakah yang akan kami makan ? Apakah yang akan kami minum ? Apakah yang akan kami pakai ?

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semua itu.

Tetapi carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Mat 6:25-34)

Rasa cinta ini membuat aku merasa damai. Dan aku sadar tulisanNya bukan lagi sekedar warisan para nabi yang hanya untuk dibaca dan diasumsikan menurut kepentingan individu. Tapi tulisanNya menjadi hidup dan berkata-kata. Ada pesan yang di sampaikanNya.

Api cinta. Yah, api cinta yang membuatnya menjadi seperti itu. Aku tidak mau kehilangan api cinta ini.

2 komentar:

Fida Abbott mengatakan...

Amin. Keterbukaan adalah langkah awal segala perubahan.

Keep in fire!!!!

Judith mengatakan...

Semoga begitu. Kamu sudah ambil langkah awal yang baik ..

GBU ..