Minggu, 07 September 2008

Sahabatku Menikah

Sahabat baikku akhirnya menemukan soulmatenya. Kata akhirnya mungkin kedengaran hiperbola, tapi menyebut akhirnya karena sahabatku ini punya rekor perjalanan panjang dalam mencari pasangan hidup yaitu enam tahun.

Kriteria pasangan hidupnya tidak muluk-muluk. Warga negara asing, single dan seiman. Ada seorang pria yang datang dari inggris, ada yang warga negara amerika, ada warganegara keturunan, ada yang yang dari prancis, masih banyak lagi. Dari semua pria itu dia akhirnya jatuh cinta dengan seorang warga keturunan tapi akhirnya hubungan itu tidak sampai ke jenjang perkawinan.

Sahabatku ini tidak putus asa, dia terus mencari dan akhirnya dia menemukan pria diluar kriterianya. Bukan WNA tapi dari daerah Candi Terkenal. Anehnya setelah pertemuan pertama mereka, sahabatku langsung jatuh cinta, pria itu juga. Menurut sahabatku, wajah pria itu tidak asing baginya sangat familiar.

Setelah pertemuan itu, sahabatku berusaha terus mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dan dia akhirnya ingat, enam tahun yang lalu saat dia berdoa meminta Tuhan memberikan pasangan hidup, dia bermimpi bertemu seorang pria mengaku sebagai suaminya. Wajah pria di dalam mimpinya itu persis seperti pria yang dicintainya itu.

Aku turut berbahagia sahabat.

Sekilas aku teringat masa-masa aku mulai berkenalan dengannya. Aku menemukan kartu namanya di sentra kerajinan kotaku. Di kartu namanya tercantum jelas, dia memasok berbagai macam bahan kerajinan dari Jogja. Aku mengambil inisiatif untuk datang berkunjung dengan maksud survey harga. Itu pertemuan pertama. Setelahnya setahun kemudian baru kami bertemu kembali dan mulai akrab.

Dengan dia aku untuk pertama kalinya coming-out bahwa aku lesbian. Aku masih ingat ekspresi wajah yang heran , marah, bengong. Setelah pengakuan itu, dia tidak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada membimbingku. Aku pernah memarahinya karena aku merasa dia tidak mengerti bahwa aku ini hanya suka dengan perempuan. Dan aku tidak mau keluar dari zona kenyamananku. Dengan sabarnya dia terus ada disisiku. Mengingatkanku. Berdoa untukku. Dia percaya Tuhan menitipkanku padanya untuk dibimbing.

Dia sanggup mendengar curhatku sampai dini hari. Chatting sampai tengah malam. Kalau aku lagi kebingungan, jam 1 malam pun dia tetap mengangkat teleponnya. Naik sepeda motor keliling kota. Wisata kuliner. Ke pantai lihat senja. Duduk di berjam-jam di cafe ice cream hanya untuk mendengar keluh kesahku. Menemaniku konseling, kebaktian, diskusi. Selama masa transisi, aku adalah prioritas utamanya.

Tidak selalu dia menuruti semua keinginanku, kadang-kadang dia bisa marah juga. Marah dengan keras, dengan kata-kata yang tepat menusuk pusat hatiku, membuatku menangis diam-diam tapi aku tidak tersinggung karena semuanya adalah untuk kebaikan diriku.

Ada satu peristiwa yang membuatku jadi sedih. Sahabatku ditampar oleh seorang ibu pejabat yang naksir dan mengejar-ngejarku. Ibu itu fikir kami pacaran. Sahabatku tidak membalasnya, dia memilih untuk diam. Tapi akibatnya dia demam. Setelah itu hubungan kami sempat renggang beberapa hari.

Sahabatku,

jerih payahmu tidak sia-sia.

lihatlah, aku sekarang sudah bisa berjalan diatas kakiku sendiri,

aku sangat berterimakasih kepada Tuhan karena memberikanku pembimbing yang terbaik.

Dan sekarang,

kamu akan segera menikah,

dengan seorang pria terbaik,

aku mendoakan yang terbaik untukmu.

Bapaku yang baik,

Berkatilah sahabatku ini,

Bukalah pintu-pintu kemurahanMu,

Lapangkanlah jalan menuju pernikahannya,

Karena kasih karuniaMu selalu menyertainya.

2 komentar:

Seli mengatakan...

Senang sekali punya sahabat yang demikian. Membuat hatiku iri saja :p.
Sampaikan doa dan ucapan selamat dariku bt dia. Jika Tuhan yg mempersatukan, maka tidak ada yg bisa memisahkan mrk :)

june mengatakan...

Wooww what a friend! Bener2 Tuhan sayang ama sis AKU, sampe dikirim seorang sahabat yg demikian ^.^