Nicky Gumbel, seorang pengacara dan staf gereja Holly Trinity Brompton dalam salah satu bukunya menuliskan seperti ini : "Ketika seorang Kristen berkata , di dalam hubungan dengan imannya, " Saya tahu Yesus adalah kebenaran", dia tidak hanya bermaksud bahwa dia mengetahui secara intelektual bahwa Dia adalah kebenaran, tetapi karena dia telah mengalami Yesus sebagai kebenaran tersebut. Ketika kita memasuki hubungan dengan Dia yang adalah kebenaran, pola pikir kita diubah, dan kita mulai menyadari kebenaran mengenai dunia disekitar kita."
Aku memang mengalami perubahan pola pikir setelah hidup baru. Perubahan yang sangat drastis. Aku berani bilang lesbian itu kuasa gelap, padahal dulu setengah mati aku mempertahankannya.
Perubahan ini tidak aku dapat karena aku belajar atau sekolah theologi , sama sekali tidak. Aku juga tidak membaca buku Reinhard Bonnke atau Billy Graham atau Suzette Hattingh untuk merubahnya.
Dia, Tuhanku merubah pola pikirku. Dia bilang, " nak, AKU itu seperti ini lho, jika kamu ikut Aku, hidupmu akan damai sejahtera ".
Aku berhenti memohon kepada Dia untuk mengerti tentang perasaanku yang mencintai kekasih perempuanku dan aku mohon ampun atas itu. Karena aku tahu itu akan sangat-sangat menyakiti perasaanNya.
Pergi kebaktian menjadi satu kerinduan. Menyanyikan lagu penyembahan bisa sampai mengeluarkan airmata. Tangan menjadi ringan mencatat kothbah yang di sampaikan. Pulang kebaktian jiwa menjadi segar, hati gembira, menjadi bersemangat.
Dia membuatku mulai berpikir untuk menempatkan Dia sebagai prioritas. Aku mulai haus dan haus dan haus untuk mengenalnya lebih jauh. Pergi ke kebaktian sebanyak mungkin, membaca Alkitab, membaca buku-buku rohani, beli CD rohani. Dengan begitu, rasa haus hilang.
Hal lain yang sungguh membuat aku terkagum-kagum kepadaNya adalah saat seseorang mulai bertanya-tanya tentang lesbian dan menceritakan apa yang dialaminya, aku tidak segera membuka Alkitab untuk menjawabnya tapi aku akan berdoa, aku bilang, " Tuhan, apa yang harus hambaMu ini jawab ?". Kadang jawaban tidak akan langsung muncul saat itu juga. Dan yang muncul adalah dalam bentuk gambar atau situasi . Dari situ aku mulai tergerak untuk membuka Alkitab. Ayat yang sesuai dengan gambar atau situasi itulah yang aku berikan sebagai jawaban.
Ajaib bukan. Tuhan sendiri yang menjawabnya, bukan aku.
Jujur aku ini tidak punya latar belakang theologi, aku tidak punya keahlian untuk menelaah isi Alkitab itu. Sungguh aku bodoh. Doa syafaat saja aku tidak mengerti. Buta banget deh. Buka Alkitab saja selalu kalah cepat sama yang lain. Aku hanya hafal Doa Bapa Kami. Sama sekali tidak punya nilai plus dan bisa di andalkan untuk membahas Alkitab.
Tapi Tuhan memampukan aku melakukan semua itu. Dan aku kagum.
Sepandai apapun kita,
Serelijius apapun kita,
Sebanyak apapun koleksi buku rohani kita,
Setinggi apapun pendidikan theologia kita,
Sefasih apapun kita menghafal ayat Alkitab,
Pola pikir akan Tuhan tidak akan bisa didapatkan. Yang di dapatkan yaitu pola fikir berdasarkan pemikiran pribadi/asumsi/pengalaman/perasaan.
Tapi pola pikir yang diberikan Tuhan akan membuat kita mendengar Dia berkata, " nak, Aku itu seperti ini lho "

2 komentar:
Great post, sista. Seneng d km jd sering mempost tulisan yg sangat memberkati :)
memang saat kita mulai mengutamakan Tuhan dalam membuat keputusan dan bertindak, hasilnya adalah berkat bagi orang banyak.
nice sharing
Poskan Komentar