Kamis, 14 Februari 2008

Tugas Pertama ( Bagian-2)

Sehari sebelum acara dimulai, aku diminta untuk mengantar pesanan beliau ke kantor. Sampai disana, beliau sudah menunggu dengan staf-stafnya. Mereka sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk pameran besok. Saat itu aku memastikan lagi undangan untuk mengisi stand pameran, beliau mengiyakannya. Hanya aku dan sahabat baikku yang mendapat undangan itu. Setelah aku menyelesaikan semua urusan administrasi di kantor beliau, aku menelepon sahabatku dan kami sepakat untuk pergi bersama ke lokasi pameran. Saat aku akan bergerak keluar, aku melihat beliau juga mau keluar . Saat aku tanyakan, beliau mau mengambil mobilnya dirumah. Aku menawarkan bantuan dengan mengantar beliau ke rumah, toh aku juga mau keluar. Beliau setuju.

Sampai dirumah beliau, kami duduk dan ngobrol di ruang tamunya. Beliau hanya tinggal sendiri di rumahnya yang besar itu. Perkawinannya kandas ditengah jalan dan beliau belum memiliki keturunan. Beliau sangat aktif di acara-acara kerohanian dan sangat membela orang yang sealiran dengannya. Secara penampilan, memang beliau super cuek. Dalam acara yang penting sekalipun, beliau tidak pernah kelihatan berdandan. Tidak keliatan kalau beliau ini seorang yang memiliki jabatan tinggi. Dibilang low profile juga enggak, karena beliau terkenal susah menerima masukan dari orang yang dibawah levelnya, dia hanya menerima masukan dari orang-orang yang dianggap sederajat dengannya. Dibilang tomboy enggak, dibilang feminin juga enggak. Agak sulit menilai seperti apa karakter beliau. Aku juga tidak pernah memikirkannya. Selama ini aku berprinsip, itu adalah hal pribadinya. Yang penting aku tetap menjaga sikap.

Selama kami berbicara, teleponnya tidak berhenti berdering. Rupanya staf dan panitia acara besok sudah menunggu-nunggu kedatangan beliau. Tapi sepertinya beliau enggan untuk beranjak dari kursinya. Dia tetap saja berbicara mengenai pekerjaannya, rasa sakit hatinya dengan rekan kerjanya, menceritakan kejelekan orang lain. Semua hal yang dibicarakan beliau murni hal-hal yang negatif. Aku berusaha menanggapi semuanya dengan wise. Nga ngasi tanggapan, hanya kasi masukan dan mengajaknya memaafkan orang yang membuatnya sakit hati . Sifatku yang agak childish dan suka manja kepada orang yang lebih tua dariku, sangat menolong mencairkan suasana. Telepon beliau makin sering berbunyi, akhirnya aku yang mengambil keputusan untuk beranjak bangkit dan mengajak beliau ke lokasi pameran. Kami pun berpisah. Aku menjemput sahabat baikku sementara beliau langsung ke lokasi.

Sampai di lokasi, ternyata walaupun sudah dapat undangan, kami belum mendapatkan lokasi yang pasti untuk menyusun display. Sambil menunggu, kami membantu staf beliau menyusun display mereka. Terlihat istri-istri pejabat wara-wiri mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari dekorasi, konsumsi, susunan acara. Dipanggung para penari dengan tekun melatih tarian persembahan. Wajah koreografer kelihatan tegang, karena gladiresik itu disaksikan istri petinggi nomor satu di kotaku. Aku dan sahabat yang membantu staf beliau, agak bingung karena melihat beliau menjadi memiliki banyak komandan. Semua panitia acara merasa berhak menentukan lokasi display, jadi lokasi display sudah berpindah dua kali. Kami hanya bisa geleng-gelang kepala dan sangat heran melihat panitia yang tidak kasian melihat staf beliau yang dari tadi bolak-balik mengangkat barang. Seandainya beliau bisa bersikap tegas saat itu.

Sampai jam makan malam, lokasi display belum juga ditentukan, akhirnya karena sudah sangat lapar, kami mengajak beliau keluar mencari pengganjal perut. Beliau setuju saja. Katanya sih beliau tidak lapar, dia hanya pengen minum kopi. Mengajak beliau keluar dari lokasi tidak gampang, ada saja yang memanggilnya. Kami menunggu sekitar setengah jam, baru bisa keluar dari gedung. Aku memacu kendaraan menuju coffe shop yang menyediakan kopi yang enak. Sampai disana, kami kecewa sekali, ternyata malam itu hanya ada makanan kecil seperti tiramisu dan pancake. Karena sudah lapar, apa boleh buat, itu saja dulu dimakan. Sambil kami, beliau mulai lagi dengan ocehan-ocehannya yang negatif. Kami hanya tersenyum menanggapinya dan melontarkan lelucon-lelucon supaya suasana rileks. Bener deh, si ibu ketawa-ketiwi lagi. Jadi berkurang sedikit lontaran negatifnya. Aku juga yang mulai merasa akrab dengan beliau dan bersikap manja, secara usia kami juga bertaut 15 tahun lebih dan aku menggangapnya kayak ortu sendiri. Beliau juga menunjukkan sikap yang menganyomi. Baru duduk sekitar 30 menit, hp beliau krang-kring melulu. Panitia acara sudah memanggil. Walaupun beliau bilang sedang makan, teteup aja panitia nilpon terus. Makan malam yang singkat, tapi beliau keliatan happy dan tertawa dengan lepas terus.

Saat kami tiba kembali di lokasi, panitia sudah memutuskan lokasi display. Lega sekali. Aku dan sahabat memutuskan untuk segera kembali agar dapat mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa besok. Kami berpamitan dengan beliau.

Besok paginya, jam 8 pagi kami sudah hadir. Kami memakai busana se-formil mungkin. Aku dengan baju terusan panjang berwarna hitam, menurut sahabatku kelihatan wanita sekali. Aku hanya tersenyum-senyum mendengarnya. Agak siang beliau baru datang ke lokasi acara. Hari itu beliau mulai menunjukkan sikap yang lain terhadapku.....................(bersambung)

Rabu, 13 Februari 2008

Tugas Pertama (Bagian-1)

Dengan latar belakang yang kumiliki, sedikit banyak aku punya radar untuk mengetahui orang itu lesbian atau tidak. Adakalanya dugaanku meleset juga, karena lesbian itu tidak bisa dilihat dari segi penampilan saja. Walaupun orang itu sangat tomboy sekali belum tentu dia lesbian. Banyak juga lesbian yang tampil sangat feminin. Lesbian ada dimana-mana, ibu rumah tangga yang punya anak, mahasiswa, pelajar, eksekutif muda,dll.

Aku punya relasi seorang ibu pejabat yang merupakan sekretaris istri orang nomor satu didaerahku. Sudah cukup lama aku mengenalnya tapi tidak secara pribadi. Hanya sesekali aku bertemu dengannya. Dulu, banyak cerita miring yang ku dengar tentang ibu itu, baik dari segi pekerjaan, maupun segi kehidupan pribadi.

Dua minggu yang lalu, aku mendapat job dari beliau, berupa pesanan barang yang akan dipergunakan untuk kegiatan pemerintahan. Aku tidak ahli dalam job itu, tapi karena sudah diberikan pekerjaan, dan aku percaya bahwa setiap pekerjaan adalah berkat, aku memutuskan untuk menerimanya. Sebenarnya beliau punya relasi yang sudah biasa mengerjakan pekerjaan itu, bahkan boleh sangat ahli dibidangnya. Aku kenal baik dengan relasi itu. Tapi entah kenapa beliau tetap memberikan pekerjaan itu kepadaku.

Dengan adanya pekerjaan itu, aku menjadi sering bertemu dengan beliau. Semuanya berjalan dalam batas-batas yang sangat wajar, sampai aku mendapat undangan dari beliau untuk mengisi pameran dalam kegiatan pemerintahan.........

( bersambung )

Jumat, 08 Februari 2008

Suatu pagi

Aku bangun
Melangkah ke ruangan kerjaku
Membuka jendela
Merasakan udara dingin di kulit
Menatap tanaman air di halaman
Menatap langit yang cerah
Mendengar kicau burung

Terdengar celoteh tukang mie ayam yang sedang membersihkan gerobaknya
Terdengar suara pesawat melintas
Terdengar ketuk palu tukang bangunan
Terdengar suara sepeda motor lalu-lalang
Terdengar suara alat bantu jalan mama

Aku menarik nafas dalam-dalam
Dengan rakus memenuhi seluruh rongga paru-paru

Terimakasih Bapa yang baik atas nafas kehidupan yang diberikan pagi ini

Aku menghidupkan komputer
Mengakftifkan Windows Media Player
Memilih satu lagu pujian

Terimakasih Bapa yang baik atas pagi yang indah ini
Apakah rencana-Mu untukku hari ini Tuhan ?

Senin, 04 Februari 2008

Keputusan tanpa logika

Pegawai kepercayaanku adalah lelaki yang agak kewanitaan. Pemuda yang sopan, baik dan ulet bekerja. Beragama islam. Dia punya sejarah hidup yang cukup mengenaskan. Asalnya dari Jawa, kedua orang tua dan sanak saudaranya tinggal disana. Mereka memindahkannya ke kota ini dan memasukkannya ke pesantren karena mereka sudah melihat sifatnya yang kewanita-wanitaan. Anak ini tumbuh menjadi pemuda yang tampan, pandai dan berprestasi, dia selalu mendapat beasiswa sampai ke Perguruan Tinggi. Entah bagaimana caranya anak ini bisa bertahan hidup, tanpa subsidi dari orang tuanya. Dia kerja serabutan, di tempat fotocopy, di restoran, dll.

Kami bertemu dalam satu pameran lukisan setahun yang lalu. Karena pemuda ini cukup cerdas dan sopan, aku memberinya kesempatan untuk bekerja di tempatku. Hari demi hari, dia bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku perlahan mulai meletakkan kepercayaan penuh kepadanya, dan memang hasil pekerjaannya tidak pernah mengecewakanku. Hubungan kami bukan hanya sekedar bawahan dan atasan, aku menganggapnya sebagai teman sekaligus sebagai anggota keluarga. Dia juga mengenal pacar perempuanku dengan baik dan mereka juga bersahabat.

Pemuda ini miskin dalam hal kerohanian, dia merasa tidak mendapat tempat. Dia merasa terjebak dalam tubuh lelakinya. Aku pernah sharing dengannya saat aku belum bertobat. Kami merasa senasib. Jadi aku mengerti dengan jalan fikirannya. Aku tidak mengusik kehidupan pribadinya.

Sore ini dia memutuskan untuk berhenti bekerja karena merasa tidak tentram lagi bekerja disini. Saat aku tanya mulai kapan, katanya mulai bulan duabelas. Puji Tuhan, saat itulah Tuhan mulai memprosesku. Aku tidak menolak permohonannya karena aku tidak tergerak untuk melakukannya. Disinilah imanku diuji. Biasanya kalau ada pegawai yang berhenti , aku agak tersinggung dan curiga orang tersebut bisa saja telah melakukan hal yang tidak wajar. Lagipula aku memperlakukan pegawaiku dengan baik, kenapa mereka malah tidak setia.

Setelah pemuda itu kembali ke meja kerjanya, aku berusaha merenungkannya dan bersikap tenang. Tiba-tiba muncul ide untuk men-doakan pemuda itu. Sepulang kerja, aku memanggilnya dan pegawai yang lain ke dalam ruanganku. Aku umumkan bahwa pemuda ini akan berhenti kerja dan aku ingin mendoakannya. Pemuda itu setuju.

Aku mulai mengucapkan doa. Tuhan, aku ini hambaMu, yang tunduk dan tidak akan pernah menghianatiMu. Terimakasih Tuhan atas hasil karya pemuda ini dikantor ini. Pemuda ini tidak pernah melakukan hal jahat disini. Hari ini , pemuda ini memutuskan untuk membuka lembaran hidupnya yang baru. Apapun itu Tuhan, aku percaya rencana pemuda ini adalah baik dan akan berhasil dalam pekerjaannya. Tapi aku mohon Tuhan, supaya Tuhan menunjukkan kepada pemuda ini bahwa rancangan manusia tidak pernah berhasil, melainkan rencana Tuhan yang berhasil. Tuhan yang memberikan semuanya........

Setelah selesai berdoa, aku merasa sangat bersukacita. Kenapa ?

1. Aku tidak mengerti motivasi pemuda ini berhenti tiba-tiba. Karena untuk orang sepintar dia, tidak mungkin mengajukan permohonan berhenti tanpa persiapan yang matang. Apapun motivasinya , dengan mendoakan hal yang baik untuknya, semua niat yang tidak baik dipatahkan dalam nama Yesus.

2. Pemuda ini masih dalam pengaruh roh jahat - gay dan tidak ada roh jahat yang tahan dekat-dekat dengan anak Tuhan.

3. Dengan berdoa didepannya, aku mengiklaskan pemuda itu berhenti sehingga aku tidak menyimpan rasa negatif dalam hatiku.

Kalau difikir secara logika, usaha kita dalam bahaya jika orang kepercayaan kita berhenti tiba-tiba tanpa alasan yang masuk akal. Bisa saja ada pihak lain yang membajaknya karena pegawai kepercayaan sedikit banyak tahu bumbu racikan hasil dapur perusahaan. Pegawai kepercayaan biasanya orang yang pintar dalam bekerja dan membina hubungan dengan atasan.

Hari ini aku membuang semua logikaku. Aku membentengi usahaku dengan datang kepada Tuhan. Aku percaya Tuhan akan melindungi usahaku. Berkat-berkat akan tercurah di tempat usahaku. Amin.

Puji Tuhan. Hari ini aku diberi hikmat untuk menyelesaikan masalah ini.