Sehari sebelum acara dimulai, aku diminta untuk mengantar pesanan beliau ke kantor. Sampai disana, beliau sudah menunggu dengan staf-stafnya. Mereka sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk pameran besok. Saat itu aku memastikan lagi undangan untuk mengisi stand pameran, beliau mengiyakannya. Hanya aku dan sahabat baikku yang mendapat undangan itu. Setelah aku menyelesaikan semua urusan administrasi di kantor beliau, aku menelepon sahabatku dan kami sepakat untuk pergi bersama ke lokasi pameran. Saat aku akan bergerak keluar, aku melihat beliau juga mau keluar . Saat aku tanyakan, beliau mau mengambil mobilnya dirumah. Aku menawarkan bantuan dengan mengantar beliau ke rumah, toh aku juga mau keluar. Beliau setuju.
Sampai dirumah beliau, kami duduk dan ngobrol di ruang tamunya. Beliau hanya tinggal sendiri di rumahnya yang besar itu. Perkawinannya kandas ditengah jalan dan beliau belum memiliki keturunan. Beliau sangat aktif di acara-acara kerohanian dan sangat membela orang yang sealiran dengannya. Secara penampilan, memang beliau super cuek. Dalam acara yang penting sekalipun, beliau tidak pernah kelihatan berdandan. Tidak keliatan kalau beliau ini seorang yang memiliki jabatan tinggi. Dibilang low profile juga enggak, karena beliau terkenal susah menerima masukan dari orang yang dibawah levelnya, dia hanya menerima masukan dari orang-orang yang dianggap sederajat dengannya. Dibilang tomboy enggak, dibilang feminin juga enggak. Agak sulit menilai seperti apa karakter beliau. Aku juga tidak pernah memikirkannya. Selama ini aku berprinsip, itu adalah hal pribadinya. Yang penting aku tetap menjaga sikap.
Selama kami berbicara, teleponnya tidak berhenti berdering. Rupanya staf dan panitia acara besok sudah menunggu-nunggu kedatangan beliau. Tapi sepertinya beliau enggan untuk beranjak dari kursinya. Dia tetap saja berbicara mengenai pekerjaannya, rasa sakit hatinya dengan rekan kerjanya, menceritakan kejelekan orang lain. Semua hal yang dibicarakan beliau murni hal-hal yang negatif. Aku berusaha menanggapi semuanya dengan wise. Nga ngasi tanggapan, hanya kasi masukan dan mengajaknya memaafkan orang yang membuatnya sakit hati . Sifatku yang agak childish dan suka manja kepada orang yang lebih tua dariku, sangat menolong mencairkan suasana. Telepon beliau makin sering berbunyi, akhirnya aku yang mengambil keputusan untuk beranjak bangkit dan mengajak beliau ke lokasi pameran. Kami pun berpisah. Aku menjemput sahabat baikku sementara beliau langsung ke lokasi.
Sampai di lokasi, ternyata walaupun sudah dapat undangan, kami belum mendapatkan lokasi yang pasti untuk menyusun display. Sambil menunggu, kami membantu staf beliau menyusun display mereka. Terlihat istri-istri pejabat wara-wiri mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari dekorasi, konsumsi, susunan acara. Dipanggung para penari dengan tekun melatih tarian persembahan. Wajah koreografer kelihatan tegang, karena gladiresik itu disaksikan istri petinggi nomor satu di kotaku. Aku dan sahabat yang membantu staf beliau, agak bingung karena melihat beliau menjadi memiliki banyak komandan. Semua panitia acara merasa berhak menentukan lokasi display, jadi lokasi display sudah berpindah dua kali. Kami hanya bisa geleng-gelang kepala dan sangat heran melihat panitia yang tidak kasian melihat staf beliau yang dari tadi bolak-balik mengangkat barang. Seandainya beliau bisa bersikap tegas saat itu.
Sampai jam makan malam, lokasi display belum juga ditentukan, akhirnya karena sudah sangat lapar, kami mengajak beliau keluar mencari pengganjal perut. Beliau setuju saja. Katanya sih beliau tidak lapar, dia hanya pengen minum kopi. Mengajak beliau keluar dari lokasi tidak gampang, ada saja yang memanggilnya. Kami menunggu sekitar setengah jam, baru bisa keluar dari gedung. Aku memacu kendaraan menuju coffe shop yang menyediakan kopi yang enak. Sampai disana, kami kecewa sekali, ternyata malam itu hanya ada makanan kecil seperti tiramisu dan pancake. Karena sudah lapar, apa boleh buat, itu saja dulu dimakan. Sambil kami, beliau mulai lagi dengan ocehan-ocehannya yang negatif. Kami hanya tersenyum menanggapinya dan melontarkan lelucon-lelucon supaya suasana rileks. Bener deh, si ibu ketawa-ketiwi lagi. Jadi berkurang sedikit lontaran negatifnya. Aku juga yang mulai merasa akrab dengan beliau dan bersikap manja, secara usia kami juga bertaut 15 tahun lebih dan aku menggangapnya kayak ortu sendiri. Beliau juga menunjukkan sikap yang menganyomi. Baru duduk sekitar 30 menit, hp beliau krang-kring melulu. Panitia acara sudah memanggil. Walaupun beliau bilang sedang makan, teteup aja panitia nilpon terus. Makan malam yang singkat, tapi beliau keliatan happy dan tertawa dengan lepas terus.
Saat kami tiba kembali di lokasi, panitia sudah memutuskan lokasi display. Lega sekali. Aku dan sahabat memutuskan untuk segera kembali agar dapat mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa besok. Kami berpamitan dengan beliau.
Besok paginya, jam 8 pagi kami sudah hadir. Kami memakai busana se-formil mungkin. Aku dengan baju terusan panjang berwarna hitam, menurut sahabatku kelihatan wanita sekali. Aku hanya tersenyum-senyum mendengarnya. Agak siang beliau baru datang ke lokasi acara. Hari itu beliau mulai menunjukkan sikap yang lain terhadapku.....................(bersambung)
