Jumat, 13 Juni 2008

Tubuhku menjadi saksi

Beberapa hari ini aku mulai bertemu kembali dengan teman-teman lamanya. Macam-macam komentarnya,



" Kok lu jadi berubah sih ?. Kurusan, perasaan dulu besar banget. Diet yah ?"



" Makin sui lo !, kapan neh undangannya "



" Kesambet apa lu jadi feminin begini ? "



" Dulu kayak abang-abang sekarang jadi cewek, tuntutan pacar yah ?"



" Ya ampun, kirain siapa!, sampai pangling liat dandanan sekarang"



" Perasaan dulu tomboy sekali !"



" Jalannya dulu gagah banget !"



"..................... (hanya menatap aku dari ujung kepala sampai ujung kaki)......."



"....................( senyum-senyum saja )............."



" Hah !, nga salah nih !"



" Oiiiiiiiii !, bentar lagi ngundang kan !"



Aku memberikan senyum yang paling hangat untuk setiap komentar dan mengucap syukur atas karya Tuhan dalam hidupku. Tubuhku menjadi saksi atas kuasa Tuhan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dalam Tuhan. Amin.







Senin, 02 Juni 2008

Penjaga Jejak

Seandainya kalian mengunjungi kotaku, sempatkanlah untuk mampir ke salah satu lorong di Jl. Bogor - Medan yang menyediakan aneka masakan lezat bercita rasa asia. Aku teringat dengan pusat jajanan kota lain yang sempat aku singgahi, seperti Kia kia-Surabaya, Pecenongan-Jakarta, Maliboro-Jogja, Pasar Bawah-Pakanbaru, Nagoya-Batam. Ada kesamaan yang aku dapati selain dari makanannya yang lezat , yaitu Pengamen. Belum lagi kita memilih hidangan, pengamen acapkali dengan cepat menyodorkan menu lagu. Pandai-pandailah memilih menu lagu yang ditawarkan pengamen. Jangan sampai lagu yang dipilih tidak sesuai dengan karakter suara si pengamen. Kasihan telinga anda dan kasihan pengamen yang berusaha memenuhi pesanan anda. Setelah menyanyikan lagu, biasanya pengamen langsung menyodorkan kantung untuk diisi uang kepada pengunjung dan segera meninggalkan tempat itu dan kemudian pengamen lain akan datang untuk menyanyikan lagu lain.

Ada satu pengamen yang lain dari yang lain di Lorong Jl. Bogor itu. Seorang lelaki berumur 50-an tahun, berambut panjang sepinggang tersisir rapi, berpakaian sopan dan senyum yang tidak pernah lepas ini selalu menyanyikan lagu rohani. Minimal dua lagu dinyanyikannya. Saat pertama kali mendengarnya bernyanyi, aku segera menyiapkan sejumlah uang di tangan dan ingin memintanya menyanyikan lagu lain. Tapi setelah bernyanyi, pria itu ternyata tidak mengeluarkan kantong uang. Dia langsung pergi ke restoran lain dan mulai menyanyi lagu rohani juga. Aku terkejut, aku pikir mungkin orang ini kurang akal.

Hari-hari berikutnya, aku bertemu dia lagi. Dan perilakunya tetap sama. Aku jadi selalu mengamatinya, memastikan orang itu memang waras atau tidak. Ternyata dia memang waras. Pemilik resto nga pernah mengusirnya bahkan menyapanya dengan ramah. Lirik Mujizat itu nyata paling sering dilantunkan, bait-demi bait mengalir dari mulutnya dengan penuh penghayatan.....

Disaat ku tak berdaya

Kuasa Mu yang sempurna

Ketika ku berdoa

Mujizat itu nyata

Bukan karena kekuatan

Namun roh Mu ya Tuhan

Ketika ku percaya

Mujizat itu nyata

Kehadiran lelaki ini seperti cerita masa kecilku tentang si Topi Merah yang meninggalkan jejak remah roti di sepanjang jalan saat memasuki hutan supaya dia ingat kembali jalan kerumah orang tuanya. Kalau remah si Topi Merah akhirnya dimakan burung dan dia tersesat dalam hutan rimba, lelaki ini malah menggantikan remah-remah yang telah dicuri yang menyebabkan orang kehilangan arah ke rumah Bapa. Biarlah setiap telinga yang mendengar nyanyian lelaki itu, jiwanya terbangun dan menemukan kembali jejak ke rumah Bapa.